Amerika Genjot Sistem Tenaga Nuklir Baru untuk Kebutuhan di Luar Angkasa

Unit Inovasi Pertahanan (DIU) menambah daftar badan di Amerika Serikat yang berlomba dalam dunia riset tenaga nuklir.

DIU, yang bertujuan membentuk kesiapan militer AS menggunakan produk-produk riset tenaga nuklir komersial yang berhasil dikembangkan nanti, telah mengumumkan dua kontrak prototipe propulsi nuklir dan kemampuan energi masa depan untuk pesawat luar angkasa pada 17 Mei 2022.

“Tujuan utamanya adalah sebuah demonstrasi penerbangan orbital pada 2027,” kata pejabat DIU dalam sebuah pernyataan.

Dua kontrak yang tak disebutkan nilainya itu jatuh ke dua perusahaan, Ultra Safe Nuclear dan Avalanche Energy.

Jika semua berjalan sesuai rencana, Ultra Safe Nuclear akan mendemonstrasikan EmberCore, sebuah baterai radioisotop nuklir yang dapat diisi ulang, berguna untuk propulsi dan sumber tenaga.

“Sistem radioisotop ‘generasi berikutnya’ ini akan mampu meningkatkan tenaga 10 kali lebih tinggi, dibandingkan sistem plutonium, dan menyediakan lebih dari 1 juta kilowatt jam (kWh) energi hanya dengan beberapa kilogram bahan bakar,” kata DIU.

Sementara, Orbitron Avalanche Energy berusaha menjebak ion fusi dalam medan elektrostatik, dengan bantuan sebuah magnetron.

Mereka berupaya menjaga elektron lebih dekat kepada intinya (inti atom) daripada yang biasanya bisa dilakukan.

Pembakaran fusi kemudian menghasilkan partikel energik yang membangkitkan panas atau listrik, yang dapat memberi tenaga bagi sebuah sistem propulsi efisiensi tinggi.

“Dibandingkan dengan konsep fusi lainnya, perangkat Orbitron menjanjikan untuk aplikasi luar angkasa karena ukurannya dapat diperkecil dan memungkinkan penggunaannya sebagai penggerak sekaligus sumber energi.” Badan lainnya di Amerika yang berusaha mengembangkan teknologi nuklir di ruang cislunar (Bumi-bulan) adalah Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

Pada 4 Mei 2022, DARPA mengumumkan siap untuk melanjutkan proyek untuk merancang, mengembangkan, dan merakit mesin roket termal nuklir untuk demonstrasi penerbangan di orbit Bumi pada 2026.

Proposal tersebut akan mendukung program Demonstration Rocket for Agile Cislunar Operations (DRACO) DARPA.

Tujuannya, mengembangkan sistem propulsi termal nuklir (NTP) untuk digunakan di ruang Bumi-bulan.

NTP menggunakan reaktor fisi untuk memanaskan hidrogen atau propelan lain dan menembakkannya ke luar dari nozel untuk daya dorong, menghasilkan rasio propulsi terhadap berat 10 ribu kali lebih tinggi daripada sistem propulsi listrik.

“Ini juga meningkatkan kimia roket karena efisiensi propulsi (impuls spesifik) NTP sekitar dua hingga lima kali lebih tinggi,” tulis pejabat DARPA dalam deskripsi program DRACO.

NASA juga sedang membidik yang sama, NTP.

Sistem propulsi ini diyakini dapat memangkas waktu perjalanan astronot mereka ke Mars hingga separuh dari waktu tempuh oleh sistem propulsi sekarang yang butuh enam hingga sembilan bulan.

Permintaan anggaran fiskal 2023 NASA, yang belum disetujui oleh Kongres, mencakup $15 juta untuk mendukung propulsi nuklir ini, dan NASA juga berkolaborasi dalam proyek DRACO.

SPACE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.