Jangan Remehkan Asam Amino Esensial pada Susu, Apa Saja Manfaatnya

Susu dikenal memiliki segudang manfaat untuk mendukung tumbuh kembang anak, pasalnya dalam fase tumbuh kembang, anak-anak sangat membutuhkan zat gizi makro seperti protein.

Guru Besar FKM Universitas Indonesia Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Sandra Fikawati, menjelaskan protein terdiri atas senyawa kimia yang terdiri atas asam-asam amino yang fungsinya adalah membangun dan mengatur sel-sel tubuh.

“Tubuh memerlukan 20 jenis asam amino, dan 9 diantaranya adalah asam amino esensial yang didapat dari makanan.

Makanan seperti apa? Protein hewani memiliki asam amino lebih lengkap dibandingkan protein nabati.

Susu adalah salah satu sumber protein hewani terbaik,” jawab Sandra dalam keterangan pers Senin 6 Juni 2022.

“Asam amino esensial yang lebih lengkap inilah yang akan mendukung kerja hormonal di dalam tubuh, termasuk hormon pertumbuhan.” Artinya pada anak yang kekurangan asupan asam amino esensial maka tubuhnya akan mengalami kekurangan hormon pertumbuhan.

Inilah kemudian yang menyebabkan terganggunya regenerasi sel sehingga tubuh tidak tumbuh dengan baik, bahkan juga dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.

“Akibatnya, massa otot tidak bertambah yang membuat anak susah berkembang atau bertumbuh.

Lalu sering sakit karena sistem kekebalan tubuhnya lemah , juga dapat mengakibatkan stunting yang kemudian berpengaruh pada gangguan kognitif.” Adapun stunting menurut dokter spesialis anak, Kurniawan Satria Denta, adalah hasil dari asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu lama atau kondisi status gizi buruk yang dibiarkan dalam waktu lama.

“Kalau gizi buruk biasanya berat badannya tidak bertambah, tetapi jika sudah stunting tinggi badannya pun terpengaruh,” kata dia.

Pada anak yang sudah mengalami stunting maka akan lebih sulit untuk dipulihkan daripada gangguan status gizi atau pertumbuhan lainnya.

“Selain pendek, kerusakan akibat stunting sudah sampai ke otak.

Dan hal sulit dipulihkan lagi!” kata Kurniawan yang berpraktk di RS Mayapada.

Pemerintah menargetkan prevalensi stunting pada 2024 hanya 14 persen, padahal angka stunting oada 2021 masih 24, 4 persen.

Untuk mencapai target tersebut sudah disiapkan intervensi spesifik.

Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan, Dr.

Erna Mulati, MSc-CMFM menjelaskan yang dimaksud dengan intervensi spesifik adalah intervensi yang dilakukan sebelum dan setelah anak lahir.

Intervensi sebelum anak lahir, sambung Erna, seperti pemeriksaan kehamilan, deteksi dini masalah kesehatan termasuk masalah gizi ibu hamil yang berpengaruh langsung pada pertumbuhan janin.

Sedangkan intervensi setelah anak lahir adalah promosi pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan, pemberian MPASI dengan mengutamakan asupan makanan tinggi protein hewani, hingga pemantauan tumbuh kembang balita.

Lantas pada usia berapakah protein hewani idealnya diperkenalkan kepada anak? Sesuai dengan rekomendasi WHO maupun IDAI, 6 bulan pertama anak hanya mendapatkan ASI tanpa makanan tambahan lainnya.

Setelah 6 bulan, mereka diperkenalkan dengan berbagai protein hewani maupun nabati.

“Harus diingat prinsip pemberian MPASI adalah makanan dengan gizi lengkap dan seimbang.

Jadi harus mengandung juga karbohidrat, lemak, vitamin serta mineral.

MPASI tidak bisa menu tunggal, misalnya hanya lauk, sayur atau buah saja,” kata dr.

Kurniawan.

Lebih lanjut Kurniawan menyebutkan, mulai anak MPASI, susu bisa berperan sebagai sumber protein hewani yang melengkapi.

Ada juga suumber protein hewani lain, seperti daging, ikan, atau telur.

Untuk anak di atas 1 tahun, kata Kurniawan, Selain susu pertumbuhan, juga dapat diberikan susu UHT atau susu pasteurisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.